Kamis, 05 Januari 2012

Suku Batak Mandailing atau Angkola


Suku Batak Mandailing atau Angkola

1. Lokasi Geografis
Sub suku Batak Mandailing dan Angkola  merupakan suku yang bermukim di wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan (ibukota Padang Sidempuan) dan Kabupaten Mandailing Natal (sering disingkat dengan Madina dengan ibukota Penyabungan). Kabupaten ini berdiri sejak tahun 1999 setelah dimekarkan dari Kabupaten Tapsel.
Letak
:
Sumatera Utara
Populasi
:
400.000 jiwa
Bahasa
:
Batak Mandailing
Agama Mayoritas
:
Islam
Anggota Gereja
:
1200 (0,3%)

Bahasa Batak Angkola adalah bahasa yang paling mirip dengan bahasa Batak Toba, disamping letak geografis yang berdekatan bahasa Angkola sedikit lebih lembut intonasinya daripada bahasa Toba. Bahasa Batak Angkola meliputi daerah Padangsidempuan, Batang Toru, Sipirok, seluruh bagian kabupaten Tapanuli Selatan.

Bahasa Mandailing
, merupakan rumpun bahasa Batak, dengan pengucapan yang lebih lembut lagi dari bahasa Angkola, bahkan dari bahasa Batak Toba. Mayoritas penggunaannya di daerah Kabupaten Mandailing-Natal tapi tidak termasuk bahasa Natal.

2. Budaya Sehari-hari
SOSIAL BUDAYA
Suku Mandailing, menganggap diri sebagai kaum Batak yang lebih sopan santun. Suku Mandailing-Angkola sebagaimana sebagian besar kelompok Batak sangatlah bangga terhadap kaum mereka. Mereka juga berpegang teguh pada ciri khas kaum Batak secara keseluruhan (keahlian memimpin, kecerdasan, kesetiaan terhadap marga/kaum). Keturunan (marga) merupakan hal yang sangat penting bagi orang Batak. Oleh karena itu, bila orang Batak tidak mempunyai anak, dianggap aib oleh masyarakat. Kemampuan untuk menelusuri garis keturunan merupakan hal yang sangat berarti bagi suku Mandailing-Angkola. Kebanyakan dari mereka mampu menelusuri garis keturunan sampai 20 generasi ke belakang bahkan bisa juga lebih.
Orang Mandailing lebih banyak bercocok tanam di sawah. Bila berada di perantauan, orang Mandailing cenderung untuk memiliki tanah dan rumah tinggal, seperti tercermin dalam pepatah "halului anak halului tano" carilah anak dan carilah tanah). Anak dan tanah dipandang sebagai bagian dari sahala hasangapon (harga diri) yang dapat membuat seseorang menempati kedudukan terhormat dalam masyarakat. Jika seseorang berhasil dalam perantauannya, ia akan dipersanggap atau dimuliakan.
Suku Angkola-Mandailing hidup dalam satu kumpulan desa yang disebut "huta". Secara tradisional, huta memegang kekuasaan atas tanah dan hanya mengijinkan anggota huta untuk bercocok tanam. Para anggota dapat memakai/menggarap tanah sebagai milik tetapi tidak diperkenankan menjualnya tanpa seijin huta. Ijin ini didapat dalam suatu kebiasaan, upacara perundingan. Sebuah kampung orang Mandailing dihuni oelh kelompok kerabat keturunan pendiri kampung, yang memerintah, kelompok kerabat pemberi wanita (mora), dan kelompok kerabat yang menerima wanita (anak boru). Ketiganya membentuk bagan struktur sosial orang Mandailing, sebagaimana orang Batak pada umumnya, yaitu Dalihan na Tolu.

3. Pelajaran yang diajarkan dan cara mengajarinya
 > Disini saya akan mengajari anak-anak suku Angkola atau Mandailing mengenai   bahasa Inggris karena bahasa Inggris adalah merupakan salah satu pokok bahasa yang dipakai di dunia. Apalagi daerah Sumatra Utara merupakan salah satu daerah yang sering dikunjungi oleh turis asing sehingga bila saya mengajari sedikit demi sedikit bahasa Inggris pada anak-anak suku Angkola atau Mandailing mereka bisa berinteraksi dengan turis asing yang datang kedaerah Sumatra Utara.
> Cara mengajarinya dalah :
Pertama-tama dengan mengajari anak-anak tersebut mengenai vocabulary atau mengenai kosa kata, karena dengan memahami vocabulary setiap orang pasti lama kelamaan memahami untuk berbicara bahasa Inggris. Dan selain itu saya akan mengajari anak-anak tersebut tentang conversasion atau mengenai pengucapan dalam bertutur kata bahasa Inggris. 

4. Jabarkan Rencana Kerja
Ø  Menentukan lokasi dilaksanakannya kegiatan kerja.
Ø  Menyusun materi-materi yang akan diajarkan.
Ø  Menyediakan media pendukung dalam sistem pengajaran.
Ø  Menentukan tujuan dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.

5. Apa yang ingin dicapai
Yang ingin saya capai adalah saya ingin berusaha mungkin membuat anak-anak suku Angkola atau Mandailing menjadi anak yang cerdas dan yang berguna bagi orang tuanya serta ingin membuat mereka menjadi pemuda pemudi bangsa Indonesia yang sukses dan berguna bagi nusa dan bangsa. Karena dengan menjadi anak-anak yang cerdas merupakan suatu kebanggan bagi semua rakyat Indonesia.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar